Minggu, 14 Februari 2010

ACT 07 : When Loyalty meets Truth

< Back to Homepage

Sepuluh bulan berlalu semenjak Diki, Zimi, dan Gumy menemukan Senjata Relic bernama Olympus. Zimi yang saat itu terluka dalam pertempuran untuk mendapatkan Senjata Relic sudah sembuh seperti sedia kala. Diki pun telah memiliki senjatanya yang baru, Olympus untuk menggantikan pisaunya. Dan sekarang ia sedang belajar untuk mengendalikan kekuatan tersebut.
Zimi keluar dari kamarnya. Yang ia tuju adalah pemandangan taman Ardent yang terkenal indah.
“Zim! Kau kan belum boleh keluar?!” Teriak seseorang di belakang. Saat Zimi menoleh, rupanya itu adalah suara Gumy.
Saat menghampiri Zimi, Gumy langsung memukul kepala Zimi. “Dasar bodoh! Baru sembuh sudah kesokkan mau jalan-jalan!!”
“Hey! Sakit tahu!”
“mangkanya istirahat!”
“Malas… kayak penjara aja… enggak boleh ngapa-ngapain….” Keluh Zimi.
“namanya juga orang sakit…. Oh iya, kau melihat Diki?” Tanya Gumy.
“Tidak… semenjak ia mendapatkan Senjata relic itu, ia sering latihan keluar kota… “
“Ooo…” Kata Gumy.
“Payah tuh anak! Mentang-mentang punya senjata relic, enak-enakan dia latihan sendiri…” Kata Gumy kesal.
“Memang aku seperti itu ya?” kata seseorang di belakang Gumy. Gumy sontak lompat karena terkejut. Rupanya suara itu adalah Diki. Zimi hanya senyum-senyum melihat tingkah Diki yang bisa dibilang makin aneh.
“GILA! Kenapa kau tiba-tiba di belakangku?” Teriak Gumy kesal!
“Kenapa memangnya? Rasanya belum ada peraturan yang melarang seseorang untuk berbicara di belakang orang lain…” kata Diki enteng. Mendengar hal itu, Gumy langsung mengejar Diki.
“Sini kau!!!” Teriak Gumy. Diki berlari menghindar sambil tertawa cengengesan.
“sudah-sudah… kalian ini… bertengkar saja kerjanya… enggak ada kerjaan lain?” Tanya Zimi.
“nih ada satu! Mukulin nih anak ampe babak belur!” jawab Gumy sambil bersiap-siap menangkap Diki.
“enak aja lu mukulin aku! Seperti kata pepatah… tangkaplah aku, kau ku jitak! Hahahahah” Kata Diki sambil terus menghindar dari Gumy.
“aduh… pusing dah.” Zimi hanya bisa garuk-garuk kepala melihat tingkah kedua temannya itu.
Malam harinya, Zimi, Gumy, dan Diki bertemu dengan MTD di Official HQ Xian di kota Ardent. Nampaknya MTD membawa laporan tentang musuh. Banyak sekali dokumen yang ia bawa di tangannya.
“Ah, pak MTD! Apa kabar?” Tanya Zimi.
“aku baik. Bagaimana lukamu?”
“Hampir sembuh. Jangan khawatir! Oh iya, apa yang membawa anda ke sini?”
“aku membawa surat pemanggilan kalian ke Barrak. Mungkin kalian harus memberi laporan tentang A.G.S yang kalian temukan.” Jelas MTD.
“hah? Tapi bukannya si Diki sudah…” Sela Gumy lalu melirik Diki. “Ki… jangan bilang kalau kau lupa?!”
“Ah, eh…. Hehehehe. Lupa coy… maaf.” Kata Diki sambil senyum cengengesan.
“Aduh… sudah deh…” Kata Gumy sambil menepuk jidatnya.
“Sudahlah, yang jelas kalian bertiga harus ke barrak. Aku akan tinggal di sini untuk melihat A.G.S. aku sudah menyiapkan sebuah U.A.T di depan gerbang. Kalau sudah selesai, lapor padaku dengan receiver. Ini gelombang Herzt untuk memanggilku.” Kata MTD sambil memberi catatan kecil untuk Zimi.
“Baik! Kami berangkat!” kata Zimi. Sejurus kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan kota Ardent menuju barrak xian.
* * *
Gelapnya malam telah menutupi langit Verion. Barrak Xian pun menjadi terang benderang. Suasana di sana sangat tenang. Namun, tak berselang lama, Alarm Barrak Xian berbunyi sangat keras.
“Ada apa ini?” Tanya Ryon kepada penjaga gerbang barrak Xian.
“kami tidak tahu, namun tampaknya ada penyusup yang masuk!” Jawab Penjaga tersebut.
“Apa?!” Ryon tersentak kaget. “ Segera lakukan pencarian terhadap penyusup tersebut! Gerakkan semua anggota yang ada di barrak!” Perintah Ryon.
“Baik!” Jawab penjaga lantang lalu berlari menuju aula pengumuman. Ryon berpikir untuk sejenak. Lalu, ia teringat akan sesuatu dan bergegas menuju kantornya. Sesampainya di Kantor, ia bertemu dua orang misterius. Wajahnya tertutup topeng dan mereka memegang berkas-berkas penting.
“Penyusup! Kembalikan berkas itu!” Teriak Ryon lantang. Namun yang di dapatnya adalah sebuah serangan yang di tujukan padanya. Ryon sukses untuk menghindari serangan tersebut.
“Kau takkan bisa lari dari sini! Kantor ini didesain dengan satu jalan keluar masuk. Kembalikan berkas itu dan menyerahlah!” Perintah Ryon.
“hanya seorang pengecut yang akan menyerah…” Jawab salah satu sosok tersebut. “Berkas yang lebih penting dari jiwa manusia, untuk revolusi keabadian… untuk apa di sembunyikan?” Lanjutnya.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Ryon.
“Berpura-puralah seperti anak bayi baru lahir di tanah Verion. Kau tahu akan keajaiaban kekuatan demi sebuah revolusi maha dahsyat, kau sembunyikan hanya untuk menghentikan revolusi itu, apa kau tak tahu malu?” Tanya sosok yang lain.
“Aku tak mengerti apa yang kalian katakan. Enyahlah kalian dari daratan Verion ini!” Teriak Ryon. Ia keluarkan sebilah pedang dari sarung yang terselempang di belakang punggungnya.
“Salazar…. Bantu aku dengan kekuatanmu! HEAAAA!” Teriak Ryon. Ia berlari menuju sosok bayangan tersebut. CLASSSHH!
Darah menetes.. sosok-sosok bayangan itu tetap berdiri, mereka memandang Ryon dengan tatapan dingin. Ryon terluka berat. Dengan sisa-sisa tenaga, ia berusaha mendekati meja kerjanya untuk mengaktifkan alarm sunyi.
BZZZZT….
Prajurit yang sedang berjaga di pos melihat sebuah pengaktifan alarm sunyi. Beberapa dari mereka segera keluar menuju kantor Ryon.
Sementara itu, Ryon yang sekarat berusaha mengambil berkas-berkas yang terjatuh di lantai saat bertempur tadi.
“Haah….haah… kalian…tak…kan…men…dapat….kan…nya…” kata Ryon tersengal-sengal. Namun kedua sosok tersebut tertawa terbahak-bahak. “Apa yang kalian tertawakan?” Tanya Ryon marah.
“Jadi ini, Ryon yang terkenal akan pengabdiannya pada Xian? Tak kah kau tahu bahwa tuan Faton sendiri yang menyuruh kami mengambil berkas itu.” kata salah satu sosok tersebut. Ryon terperangah tak percaya.
“APA!? Kalian jangan bercanda!?”
“Terserah… lagi pula kau akan mati. Rasakan ini!” teriak sosok bayangan tersebut. Dengan sekali tebas, tubuh Ryon terbang membentur dinding dengan amat keras. Ryon terbatuk-batuk dengan darah yang terus keluar dari perutnya. Jadi….Inikah akhir dari semua yang kulakukan? MTD… maaf, aku tak bisa membantumu… Pikir Ryon lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Dasar manusia lemah. Tuan Futon yang Agung takkan membutuhkan serangga sepertimu.” Kata sosok bayangan tersebut sambil mengambil berkas-berkas yang dipegang Ryon. Lalu keduanya menghilang tanpa jejak bbagaikan angin yang berhembus dalam kegelapan. Para prajurit penjaga datang tak lama setelah kedua sosok tersebut menghilang. Mereka tak bisa menemukan musuh namun mereka menemukan tubuh Ryon yang tarbujur kaku.
* * *
Hujan turun dengan deras saat Diki, Zimi dan Gumy sampai di Barrak. Gumy yang dari tadi diam membuat Diki dan Zimi bingung.
“hey gumy, apa yang kau pikirkan?” Tanya Diki.
“Aku merasakan sesuatu yang sangat buruk.”
“maksudmu?” Tanya Zimi.
“Entahlah… namun perasaanku tidak enak saat kita sampai di Barrak.”
“mungkin perasaanmu saja! Ayo kita turun.” Ajak Diki. Zimi dan Gumy mengikuti langkah Diki turun dari U.A.T. lalu mereka melihat orang-orang berkumpul dan memakai pakaian perang mereka.
“Ada apa ini? Kenapa semuanya memakai baju perang?” Tanya Diki.
“Ayo kita tanya…” ajak Gumy. Diki dan Zimi mengangguk.
Gumy mendekati seorang penjaga yang berada di dekat kerumunan tersebut. “Permisi. Kalau boleh tahu, ada apa sebenarnya?” tanya Zimi.
Penjaga tersebut menoleh. “Ah, kau pasti murid tuan MTD yang bernama Zimi. Aku bertugas untuk mengirimkan pesan pada kalian. Namun sepertinya tidak perlu.”
“pesan? Pesan apa itu?” tanya Zimi.
“Pesan bahwa Tuan Ryon terbunuh kemarin.”
Zimi terkejut. “terbunuh?! Kau tidak bohong kan? Bagaimana bisa?” tanya Zimi.
“Ia terbunuh oleh orang yang tidak dikenal. Kami hanya melihat kantor Tuan Ryon hancur dan tubuh tuan Ryo nada di sana.”
“…..” Zimi terdiam. Ia tak menyangka ada orang yang membunuh pemimpin barrak Xian. Zimi pun kembali mendekati teman-temannya.
“Zimi! Apa yang terjadi?” tanya Diki.
“… sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi…” Tambah Gumy.
“Kau benar Gumy. Itu adalah acara pemakaman Tuan Ryon.” Kata Zimi. Mendengar hal itu Diki dan Gumy terkejut.
“APA?! Kau tak asala bicara kan?” teriak Diki tak percaya.
“!!!!” Gumy tak bisa berkata apa-apa.
“Aku minta maaf namun… itulah yang terjadi….” Kata Zimi lesu.
“SIAL!!!! Padahal aku ingin memberi tahunya tentang Olympus dan Olympia….” Kata Diki sedih.
* * *
Malam menyelimuti Verion, namun kesedihan masih menghinggapi semua orang yang berada di barrak Xian. Terutama Diki, Zimi dan Gumy. Tiba-tiba ada sebuah pengumuman.
“KEPADA SEMUA XIANIST! DIHARAPKAN BERKUMPUL DI AULA SEKARANG JUGA!”
Mendengar pengumuman itu, Diki dkk hanya melihat satu sama lain dan berangkat ke aula dengan lesu. Sesampainya di sana, mereka melihat semua Xianist sudah berkumpul, termasuk Mizuki dan Shino. Diki dkk pun segera menghampiri mereka berdua.
“Hey Shino, Mizuki. Bagaimana keadaan kalian?” tanya Gumy.
Shino menjawab, “Kami baik.” Mizuki mengangguk. “kenapa kalian murung?” tanyanya kemudian.
“Tidak apa, kami hanya sedih tentang kepergian Ryon.”
“kami mengerti perasaan kalian. Kami juga sedih mendengarnya.”
“Oh ya, bagaimana kabar Astrid?” tanya Diki.
“Dia sedang berada di pusat. Setelah sembuh, ia mulai bertugas di sana.” Kata Mizuki.
“Oh… aku mengerti.” Gumam Diki. Lalu, seorang Komandan menaiki podium menandakan acara akan di mulai.
“Kepada Xianist! Aku mengerti perasaan kalian atas hilangnya pahlawan kita, Ryon oleh para penyusup yang masuk ke barrak ini. Namun jangan khawatir, pemimpin besar kita telah memikirkan bagaimana nasib kita semua. Ia telah mengutus seorang pemimpin baru bernama Gion. Ia merupakan pimpinan battalion Runic Forcium pertama dan juga pasukan terbaik ke-3 Xian setelah Ryon. Kepada Gion kami harap naik ke atas podium untuk memberikan sepatah dua kata untuk Xianist.” Kata komandan tersebut. Lalu naiklah seorang berjumbah emas dengan pedang terselip di pinggangnya serta Hand-Shotgun terselempang di punggungnya.
“Selamat malam para Xianist! Aku di sini mengucapkan rasa duka yang sedalam-dalamnya kepada kalian. Aku tahu sebenarnya aku tak pantas untuk berdiri di sini dan menjadi pemimpin kalian. Namun percayalah, aku akan berusaha sebaiknya untuk menyelamatkan Barrak ini dengan sebaik-baiknya. Aku mohon dukungan kalian.” Kata Gion yang di sambut dengan teriakan meriah oleh para Xianist.
“….Apa ia pemimpin kita yang baru?” Tanya Diki. Zimi dan gumy mengangguk. “… aku sedikit kurang yakin…” gumam Diki.
“Aku pun begitu…” sela Shino. “Namun apa boleh buat. Pemimpin agung kita telah memutuskan yang terbaik kan?” kata Shino. Diki hanya mengangguk pelan.
* * *
Pagi berikutnya, Barrak dikejutkan dengan penyerangan suku barbar. Mereka menyerang tanpa alasan yang jelas. Tentunya semua Xianist terkejut dan berlarian untuk mempersiapkan serangan balasan. Menurut berita, Pos depan Barrak hancur oleh suku barbar yang disinyalir dibantu oleh pasukan Fenrir.
“Diki! Kita harus bertindak!” teriak Gumy yang sudah lebih dahulu membantu penyerangan. Sedang Diki dan Zimi masih mempersiapkan senjata mereka.
“Baik! Aku berangkat duluan!” Teriak Zimi. Diki yang tertinggal di dalam kos kebingungan karena ia tidak dapat merasakan kekuatan yang dulu ia pernah rasakan saat memegang Olympus. Ada apa ini? Kenapa aku tak dapat merasakan kekuatan itu? namun Diki memantapkan pikirannya. Tidak, aku tak perlu ragu. Yang jelas… aku harus membantu menyelamatkan barrak ini terlebih dahulu.
Diki berangkat meninggalkan kos menuju gerbang Barrak. Di sana, pertempuran tak terelakkan lagi. Seorang prajurit suku barbar menyerang langsung ke arah Diki. Ia melancarkan serangannya namun dengan sukses, Diki berhasil mengelak.
“HEAA!” Teriak Diki. Tebasan telak mengenai orang tersebut. Setelah membereskan yang pertama, Diki maju menuju tngah pertempuran. Disana ia melihat Mizuki yang di serbu oleh lima pasukan sekaligus.
“Mizuki! Awas!” teriak Diki. Seorang prajurit menyerang Mizuki dari belakang. Terlambat! Mizuki tak dapat mengelak. Namun di sana muncul Shino dengan tamengnya melindungi Mizuki.
“HAAA!” Shino mendorong prajurit itu dengan tamengnya. “ Diki! Pergilah ke barat barrak! Mereka membutuhkan bantuanmu! Biar kami yang mengatasi masalah di sini.” Teriak Shino. Diki mengangguk. Ia berlari menuju barat Barrak.
“Tolong!” teriak seseorang. Asal suara itu tampaknya berasal dari barat Barrak. Diki mempercepat langkahnya dengan Angel Boots. Di sana, Zimi sedang melindungi anak kecil dari serbuan pasukan-pasukan barbar tersebut.
“HEA! EXPLOSIVE RAINSTORM!”
Hujan Panah menmyirami pasukan-pasukan tersebut. Lalu meledak! Mereka terpental. Namun masih sanggup bangkit. Diki yang melihat seorang prajurit masih bisa bangkit di belakang Zimi segera melemparkan Olympus ke arah Zimi dan menggunakan Body Swapping. Seketika ia berada di belakang Zimi dan menendang prajurit itu telak di wajah.
“Diki!” Kata Zimi terkejut.
“Kau tak apa?” tanya Diki. Zimi mengangguk. “bagaimana denganmu adik kecil?” tanya Diki. Anak kecil itu pun mengangguk.
“Syukurlah. Ayo kita selesaikan ini!” Teriak Diki.
“Adik kecil, kamu sembunyi di sini ya?” ajak Zimi. Anak kecil itu mengangguk lalu bersembunyi. “Nah, ayo kita selesaikan! Force Power Ignited! Power limit sealer open!”
Force glove Zimi bercahaya, dari tangannya keluar panah yang bercahaya terang. Ia menggunakan panah itu kepada musuh yang datang. “HEAA!”
Panah itu melesat dengan cepat dan dengan seketika meledak! DHUAAAARRR!!! Ledakan itu sangat besar. Hampir setengah pasukan yang menyerang Zimi dan Diki hancur oleh serangan tadi.
“Aku juga! Force Glove Ignited! Power seal re open! 110 %!”
Force glovenya bercahaya. Begitu juga Olympus. Diki berlari menuju pasukan musuh yang tersisa dan menyerang mereka. “Shining Slash!” Teriaknya lantang. Sebuah tebasan panjang mengenai lima orang sekaligus! Mereka terkapar. Diki melompat lalu kembali merapal serangan selanjutnya.
“Omega Clash!”
Ia langsung menyerang tepat ke tanah. Menyebabkan bumi bergetar hebat.
“Dan ini yang terakhir!” Teriak diki dari berlakang mereka. “Forcium Thrust!”
Dengan satu tusukan, mereka semua tumbang di tangan Diki. Bagian ini selesai! Namun tiba-tiba tubuh Diki tidak dapat digerakkan. Cahaya di Olympus semakin menyala padahal kekuatan Force Glove telah berhenti.
“A…Ada apa ini…. Tubuhku…” Kata Diki. Zimi yang melihat prajurit tersebut kembali menyerang memperingatkan Diki. “Diki! Awas!”
“Hah!” Diki menoleh kebelakang. Prajurit Barbar itu menyerang kembali. “Sial….!” Namun dengan sekejap, mereka hilang tanpa jejak.
“Ke…kemana mereka?” tanya Diki. Lalu muncul Gumy dari belakang Diki. “Untung aku sempat menteleportasikan mereka…. Kenapa kau Diki?” tanya Gumy.
“Entahlah…. Tapi…UGH!!” Diki berusaha bangkit namun tak bisa. “Aku tak bisa bergerak…”
“biar aku yang memapahmu! Zimi! Segera bantu pasukan depan.” Perintah Gumy. Zimi mengangguk setuju dan pergi meninggalkan mereka, sedangkan Gumy memapah Diki menuju posko penyembuhan.
* * *
Sepuluh jam berlalu, sekarang Diki bisa bergerak. Dan untunglah pasukan suku barbar berhasil di tumpas. Banyak dari mereka tertangkap dan akan di adili sekarang. Diki dan Gumy pergi ke aula Barrak untuk melihat eksekusi.
Sesampainya di sana, tampak pasukan barbar sedang berlutut. Wajah mereka tampak pasrah.
“Kepada para Xianist! Lihatlah penyerang ini! Mereka yang menyerang tanpa alasan yang jelas berakhir dengan tertangkap di sini. Kepada kalian, apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghukum mereka?” tanya seorang komandan.
“Masukkan ke penjara!”
“jadikan pasukan tingkat C!”
“ambil senjata mereka dan kembalikan saja!”
Banyak sekali pendapat-pendapat yang di lontarkan oleh para Xianist. Namun, tiba-tiba Gion berteriak, “Kepada semua Xianist! Aku diberi wewenang oleh pemimpin agung untuk membuat suatu keputusan bulat untuk kebaikan Barrak. Dan aku akan memberikan hukuman kepada mereka, yaitu hukuman mati!” teriak Gion.
Semuanya saling berpandangan. Bingung atas apa yang di putuskan oleh Gion.
“Apa-apaan ini! Itu pembantaian! Pelajaran Militer tidak pernah mengajarkan hal itu!” teriak seseorang.
“Kami menolak hal itu! bahkan Tuan Ryon pasti tak setuju akan hal ini!”
Gion kembali berteriak denan lantang, “Dengarkan Aku! Biarkan ini menjadi contoh agar tidak ada seorangpun yang berani menyerang kita! Dan keputusan ini bulat!”
Para prajurit penjaga, bersiap di belakang mereka dan dengan satu gerakkan yang sama, mereka membantai para pasukan barbar itu.
“Apa yang kau lakukan!!!” teriak seorang Xianist. “Kau gila!” lalu sepersekian detik, Gion berada di belakangnya dan memukul perutnya.
“kau masih mau mengatakan sesuatu?” tanya Gion. Namun Xianist itu hanya terpekur memegangi perutnya.
“bagus…” kata Gion sambil pergi meninggalkan aula. Semua Xianist healer mulai membantu yang terluka tadi. Sedangkan yang lain meninggalkan aula terkecuali Diki dkk.
“…. Ia menerapkan prinsip otoriter…” kata Gumy.
“iya…” jawab Zimi.
“… Aku merasa sesuatu sangat mencurigakan ada di balik ini…” kata Diki.
“Aku juga…. Namun sudahlah… kita harus jaga malam saat ini kan?” Kata Zimi.
“iya… ayo kita bersiap ke pos depan…” ajak Gumy
* * *
Malam hari, Diki dkk bertugas untuk menjaga gerbang Barrak. Diki yang cepat sekali bosan memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak sedangkan Zimi pergi untuk membuat kopi.
“Hey! Kalian semua kok pergi?” tanya Gumy protes.
“Ya ampun Gumy! Bentar aja!” kata Diki.
“ya Gumy, aku mau membuat kopi. Sebentar saja.” Kata Zimi.
“…. Ya sudah! Cepat!” kata Gumy ketus. Mereka berdua pun pergi meninggalkan Gumy. Diki menuju ke bukit dimana mereka bersama dengan Astrid, Shino, dan Mizuki. Tiba-tiba pedang Olympus bercahaya dan melayang di depan Diki.
“D…..K…..”
“S..SIAPA KAU!?” Diki terkejut.
“Di….Ki….”
“Hah!?”
“…Diki…Diki!” Sauara itu semakin jelas dan rupanya suara itu berasal dari Olympus.
“O…Olympus? K…kau bisa bicara?” tanya Diki.
“Ya… aku adalah pedangmu. Mungkin dulu kau terkejut kenapa kau tidak dapat merasakan kekuatanku… tapi itu adalah tanda bahwa aku telah memilihmu… begitu pula Olympia…”
“O…Olympia? Maksudmu A.G.S itu?” tanya Diki.
“Iya… saat pertama kali bertemu, aku melepaskan semua kekuatanku untuk mengetes kekuatan pikiran dan kekuatan jiwamu… namun saat terpilih… aku akan tersegel oleh lima segel.”
“Segel? Untuk apa?”
“Segel ini di buat untuk menjaga orang yang menggunakan aku. Aku dapat membunuh sang pemilikku jika ia tak mampu menjaga kekuatan pikiran dan jiwanya. Maka dari itu, segel ini dibuat untuk mengurung kekuatan asliku…”
“lalu, apa segel itu dapat terbuka?”
“suatu saat, iya. Namun itu tergantung atas usahamu. Apabila kelima segel ini terbuka, maka kau sudah siap untuk melaksanakan tugasmu yang sebenarnya.”
“tugas? Apa maksudmu?”
“aku adalah pedang dewa yang menunggu akan sebuah ramalan yang terwujud pada suatu malam yang gelap menuju hari yang terang….”
“???? Aku tidak mengerti…”
“Kau akan menjalani sebuah takdir sebagai orang yang terpiilih dalam ramalan. Untuk saat ini, kau belum mendengarnya, namun bila saatnya tiba… kau akan mengerti…”
“kalau begitu… bagaimana membuka segel tersebut?”
“kau harus melalui sebuah pengalaman yaitu kebenaran, rasa percaya, perubahan sejati, kemarahan, dan rasa memiliki. Saat itu kau akan membuka segel terakhir dan kau akan siap untuk menjadi orang yang terpilih dalam ramalan….”
“kebenaran, rasa percaya, perubahan sejati, kemarahan, rasa memiliki…”
“Diki… sebentar lagi kau akan membuka segel pertamaku. Karena ini adalah segel pertama, maka aku harus memberi tahumu. Kau akan merasakan kebenaran. Sikapilah dengan bijaksana dan ikuti kemana kebenaran itu pergi.” Lalu cahaya Olympus meredup dan kembali terselempang di belakang punggung Diki.
“Hey tunggu! Bagaimana jika aku mau bertanya sesuatu?” tanya Diki. Namun Olympus tak menjawab. Yang terpilih…. Ah, itu tidak penting. Namun segel pertama akan terbuka sebentar lagi? Apa maksudnya??
Tiba-tiba Seseorang muncul. Diki segera bersembunyi untuk melihat siapa yang datang. Rupanya sosok itu adalah Gion. Ia bersama dua orang yang tidak dikenal.
“siapa mereka?” gumam Diki. Ia berusaha mendekat untuk bisa mendengar apa yang ketiga orang itu bicarakan.
“Apa yang akan kalian laporkan padaku?” tanya Gion.
“Rencana telah berhasil. Kami berhasil menghasut suku barbar untuk menyerang Barrak besok. Dan kami sudah mempersiapkan pasukan yang akan menyamar menjadi pasukan Fenrir.”
“bagus… dengan begini, kita bisa membuat Barrak Xian menjadi patriotis ekstrimis untuk menggagalkan ramalan yang muncul 100 tahun yang lalu.” Kata Gion. Apa… mengkambinghitamkan Fenrir? Jadi selama ini…
“apa tuan mau melihat peralatan yang akan dipergunakan untuk menyerang barrak?”
“Boleh. Mari kita ke Outpost di depan barrak.” jawab Gion lalu pergi. Diki lalu meninggalkan tempat persembunyiannya dan pergi menuju pos gerbang Xian.
Sesampainya di sana, Diki langsung di sambut oleh omelan beruntun oleh Gumy.
“Heh! Dari mana saja? Lama kali! Enggak tahu ya kalau kau tuh lama? Hampir aja aku meninggalkan ini pos!”
“Heh… hehehe…. Sabar coy… aku ada berita penting…”
“Apa?!” Bentak Gumy.
“Jangan marah-marah begitu dong. Ayo kita ke dalam pos. oh iya, di mana Zimi?”
“Dia di dalam.”
Sesampainya di dalam, Diki mulai memberitahu semua yang ia lihat di bukit tadi. Tentang percakapan Gion dan dua orang yang aneh.
“Jadi maksudmu? Selama ini kita berperang melawan orang yang tidak bersalah?” tanya gumy.
“aku juga meragukannya, namun aku ingin tahu yang sebenarnya. Apa kau mau ikut?” ajak Diki.
“Aku akan ikut denganmu Diki! Aku juga merasakan hal-hal yang aneh semenjak Gion menjadi pemimpin di barrak ini.” Kata Zimi.
“bagaimana denganmu Gumy?” tanya Diki.
“aku akan ikut! Aku tak mau kebenaran di tutupi dan aku tak mau di tinggal sendiri!” kata Gumy.
“baiklah! Ayo kita ke Outpost! Mungkin kita bisa tahu kebenarannya.” Ajak Diki. Lalu mereka bertiga meninggalkan Pos menuju Outpost di depan Barrak. Sesampainya di sana, mereka mulai menyusup masuk ke dalam Outpost. Memang aneh, Outpost yang biasanya di jaga oleh dua orang, kini di jaga oleh lebih kurang sepuluh orang. Walau mereka sulit masuk ke dalam, namun akhirnya mereka bisa menyusup melalui lubang dinding di Outpost yang tidak di jaga.
Sesampainya di dalam, mereka melihat kotak-kotak berisi baju prajurit Fenrir, lalu senjata-senjata lengkap, berkas-berkas dokumen, dan juga sebuah tangan mesin yang sangat besar.
“Diki, Apa yang akan kita cari di sini?” tanya Gumy.
“Coba kita baca dokumen-dokumen ini.” Kata Diki sambil menunjukkan dokumen yang berserakan di meja. Mereka pun mulai membaca dokumen-dokumen tersebut. Lima menit kemudian mereka menemukan sesuatu.
Ryon mengetahui kebenaran bahwa yang menyerang kota Ardent dan yang menduduki kota Airoka adalah prajurit battalion utama Xian yang menyamar menjadi prajurit Fenrir. Aku memerintahkan kalian untuk membungkamnya dan mengambil laporan kebenaran tersebut di tangannya. Dia juga memiliki laporan tentang A.G.S yang bisa kita gunakan untuk menggagalkan ramalan tersebut. Ambil dari tangan Ryon untuk kejayaan kita semua!

“…. Jadi, selama ini…” Gumy menunduk.
“Kita hanya bertarung dengan orang yang tak berdosa…” Gumam Zimi.
“Jadi, Tuan Ryon tahu yang sebenarnya…” kata Diki.
“Aku tak bisa membiarkan ini terjadi! TIDAK!” Kata Gumy. “harga diriku sebagai penyihir akan hilang jika aku tetap berada di Xian padahal aku sudah mengetahui kebenarannya. Ayo Diki, Zimi! Kita pergi meninggalkan Xian menuju Fenrir!”
“Aku setuju. Ayo kita bergerak…” Kata Zimi.
“bagaimana Diki? Kau akan pergi?” tanya Gumy.
“Aku…. Telah melihat kebenarang. Aku takkan tinggal. Aku akan terus pergi kemana kebenaran itu berada.” Kata Diki.
“Baik! Ayo kita pergi!” ajak Gumy. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Outpost dengan tujuan pertama, Kota Ardent sebelum menuju kota Perbatasan Fenrir, Salmion.
Diki…. Kau telah membuka segel pertamaku. Kau telah merasakan kebenaran yang pahit. Kau telah merasakan apa itu kebenaran sejati. Oleh karena itu, aku akan berada di punggungmu untuk membantumu menemukan kebenaran-kebenaran tersebut. Segel ini membuatku tak bisa berbicara. Namun aku berterima kasih karena membuka segel pertama. Mari bersama mencari kebenaran.
Diki tersenyum dalam pelariannya. Tentu Olympus! Selama kau mau membantuku mencarinya, dan selama sahabatku mau bersama mencarinya, maka aku takkan menyerah untuk mencarinya.
Dan mereka meninggalkan Barrak, dengan satu tujuan…. Lari untuk kebenaran.

< Previous Next >